Untuk mengisahkan perjalanan hidupKU.. rasanya tidak akan cukup sekalipun diterbitkan dalam sebuah trilogy. Aku adalah seorang anak manusia yang lahir di sebuah desa di pinggiran kota Jakarta – dekat dari sisi jarak , namun sangat jauh jika diukur dari sisi kemajuan dan modernitas – pada pertengahan tahun 1979.
Masa kecil kulalui sebagai anak kampong. Pagi hari sekolah di SDN Grogol I, sore hari mengaji di majlis ta’lim. Beranjak remaja; banyak hal yang kulakukan di pagi hari: kadang nonton tv di rumah tetangga yang jauhnya sekitar 1 Km, kadang membantu ayah menyabit rumput untuk pakan kambing, kadang ikut berjualan buah di pasar, kadang ikut panen singkong untuk bahan baku pembuatan tape. Sorenya… rutin sekolah di SMP Kesuma (sekarang Kesuma Bangsa).
Saat itu kendaraan umum belum terlalu popular untuk anak kampong seperti aku. Apalagi bersepeda motor, mimpi kali yeeee… jadi, sekolah jalan kaki. 45 menit perjalanan. Masuk sekolah pkl. 13.00. jam 11.00 aku dan teman-teman telah berangkat dari rumah. Dengan bekal sebagai juara umum hasil Ujian Akhir di SD, sebenarnya aku kepingin sekolah di SMP Negeri. Tapi tempatnya jauh.. harus naik angkot beberapa kali dan lagi SPP-nya mahal. Untuk ukuran aku saat itu; untuk ongkos naik angkot aja ga ada, apalagi bayar SPPnya.. wah… terpaksa deh ku kubur dalam-dalam impian sekolah di SMP Negeri. Sekolah di SMP Kesuma saat itu paling murah… berangkat/pulang jalan kaki, SPP Cuma Rp. 3.600 se bulan.. sekolah yang pro rakyat kecil. Tapi memang jangan harapkan fasilitas yang macam-macam. Perpustakaan??? Lab computer??? lab bahasa???, lab IPA???, Alat peraga???; lah gedung sekolahnya aja numpang di Madrasah Ibtidaiyah swasta. Jadi, SMP copy paste SD. Mencatat, membaca, mendengarkan guru. Nothing ells.
Namun begitu, kualitas guru-guru yang mengajar sangat bagus kurasa waktu itu. Mereka kreatif sekali ditengah keterbatasan sarana yang ada. Ada pak Indah Yanto guru fisika, pak Abdul Rohim guru Bahasa Inggris, bu Watmawati guru Bahasa Indonesia, dan guru lain yang tidak bisa ku sebutkan satu persatu; namun mereka semua luar biasa. Dan satu lagi yang paling dekat dengan semua murid Tata Usaha Sekolah Bpk Udin Jaenudin. Beliau ini sangat terkenal di kalangan siswa dengan sebutan pak UJ. Sebelum ada UJ (ustadz Jepri al-Buchori) UJ yang terpatri di hatiku dan teman-temanku adalah Udin Jaenudin. Walau sekolah di tempat yang minim fasilitas, tidak lantas menyurutkan semangatku untuk mengukir prestasi. Alhamdulillah, aku lulus dengan nilai terbaik diantara lulusan SMP swasta se-Kecamatan Beji.
Dengan modal nilai tersebut, Sekali lagi aku mencoba menggali kembali impianku untuk dapat mengenyam pendidikan yang baik di sekolah negeri. Apalah daya; sekali lagi aku hanya bisa gigit jari begitu melihat daftar biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa jadi siswa SMA Negeri. Ku gali lebih dalam lagi lubang di hatiku untuk menguburkan impianku masuk sekolah Negeri. Atas ajakan seorang teman, akhirnya aku mendaftar di sebuah sekolah kejuruan pertanian di Jakarta -SPP DKI Jakarta- (sekarang SPP Negeri DKI Jakarta). Bukan karena aku tertarik dengan dunia pertanian, tapi karena pertimbangan biaya. Bayangkan, di sekolah lain waktu itu, SPPnya minimal Rp.25.000,- belum lagi uang praktek, uang semester, uang buku, uang osis dan entah uang apalagi yang harus dikeluarkan oleh setiap siswa. Tapi di SPP DKI Jakarta, aku cukup bayar Rp. 15.000,- sudah termasuk uang SPP, iuran koperasi, iuran organisasi siswa. Plus subsidi biaya praktek, biaya ujian semester dan ujian akhir yang didanai oleh APBD DKI Jakarta.
Jadi sekali lagi motivasi bukan karena minat tapi karena biaya. Tahun pertama menjadi siswa SPP DKI, berat sekali rasanya. Jika sekolah SMA lain masuk jam 7 pagi pulang jam 1 siang. Maka di SPP DKI aku harus masuk jam 6 pagi pulang jam 5 sore. Rutin, setiap hari. Sekolah yang melelahkan. Sempat tersirat dalam pikiranku untuk menyerah. Berhenti dan pindah ke sekolah lain. Tapi batinku berkata: “ sekolah dimana lagi yang bisa seperti ini; fasilitas lengkap, dekat dari rumah, biaya murah” yang digaris bawahi adalah BIAYA MURAH. Tapi TIDAK MURAHAN.
Tiga tahun kulalui masa-masa sulit di SPP DKI Jakarta. Dengan harapan, lulus sekolah nanti bisa langsung bekerja atau wira usaha dengan modal keterampilan yang diajarkan di sekolah. Tidak sedikitpun terlintas di hatiku saat itu, untuk melanjutkan kuliah setamat SPP. Sekolah sampai SLTA saja sudah merupakan kebanggaan di tengah keterbatasan ekonomi keluargaku saat itu. Ada satu pelajaran yang tak pernah dapat kulupakan seumur hidupku yang kudapat dari sekolah ini. Bukan pelajaran dalam kurikulum, tapi pelajaran dalam menjalani hidup. Adalah Bpk Andi Kurniawan yang mengajarkan nilai-nilai tersebut. Perkataan sederhana namun memiliki makna yang teramat dalam. “JANGAN BERCERMIN DI AIR YANG KOTOR”.
BERSAMBUNG……