MY OTTOBIOGRAFY PART III


Tak terasa, sudah 13 tahun sejak My Otto Biografi dan My Otto Biography II terbit, baru kali ini saya berkesempatan menulis sequel ketiga dari my otto biografi. Pada part ini saya akan melanjutkan cerita hidup saya dengan sub judul:

MENCURI MIMPI

Kuliah di APP Bogor, mahasiswanya adalah para PNS dengan latar belakang penyuluh pertanian dan atau dinas teknis yang membidangi pertanian dari seluruh daerah di Indonesia. Hanya aku, dan sahabatku Shantianny yang non PNS -fresh graduate- dari SPMA.  Mungkin karena kami sama-sama non PNS dan paling muda di antara mahasiswa yang lain kami jadi lebih akrab.

Pada satu kesempatan saya dan sahabat saya, Shanty ngobrol2 tentang masa depan. Shanty berkata bahwa dia punya mimpi ingin tinggal di rumah dengan lingkungan pedesaan yang masih asri, di depan rumahnya ada kolam ikan yang bisa kapan saja dipancing. Dia bercita2 jadi PNS seperti ibunya, pulang kerja, duduk di teras rumah sambal memancing di kolam ikan.

Dia bertanya, “Kamu mau jadi PNS?” spontan saya jawab tidak. Saya tidak mau jadi PNS. Saya asal jawab saja waktu itu. Siapa yang tidak mau jadi PNS.. orang bilang PNS adalah pekerjaan paling stabil, ga ada PHK, gaji lumayan, ada uang pensiun. Kalo beruntung bisa jadi pejabat di tempat basah.. wow lah pokoknya. Trus kenapa jawab ga mau.. itu karena saya merasa ga mungkin bisa jadi PNS – ga bisa ya, bukan ga mau- dari kabar burung yang saya dengar waktu itu, untuk bisa diterima bekerja sebagai PNS itu harus kenal orang dalam atau bayar belasan juta. Lah saya siapa?? Bisa kuliah aja karena beasiswa.. anak petani yang ga pernah kenal birokrasi. Jangankan orang dalam, datang ke Kelurahan aja cuma kalo mau buat atau perpanjang KTP. Uang sogokan belasan juta?? Apalagi.. kalo saya punya uang sebanyak itu, daripada buat bayar sogokan masuk PNS, lebih baik bangun kios untuk Bapakku. Kasian, sudah setua itu masih harus keliling komplek menjajakan buah dari rumah ke rumah. Tersengat teriknya kota Jakarta yang semakin panas dari hari ke hari. Keinginan untuk jadi PNS sudah saya kubur dalam2 seperti halnya saya mengubur impian untuk bisa sekolah di SMP dan SMA Negeri.

Lulus D3 APP Bogor pada tahun 2001, saya diajak bekerja di kebun penelitian milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) oleh sesama lulusan APP Tahun 2001 yaitu Pak I Dewa Sukawirawan sebagai “freelancer”. Tenaga honorer yang tidak terikat: tanpa SK tanpa ikatan perjanjian apa-apa, hanya diminta tinggal di kebun penelitian melakukan pekerjaan yang disampaikan juga secara lisan. Tapi yang ingin aku ceritakan di sini bukan tentang pekerjaannya tapi tentang tempat tinggalnya. oleh BPPT, aku ditempatkan dan disiapkan rumah di tengah kebun penelitian, di Desa Puncak Manis, Kabupaten Sukabumi.

“Rumah Dinas” tersebut saya tempati berdua dengan seorang teman bernama Rudi, seorang staf kebun yang berasal dari tegal. Hal pertama yang membuat perasaan saya terkesima adalah, Rumah itu sama persis dengan gambaran cita-cita sahabatku Shantianny. Rumah sederhana, berada di alam pedesaan yang asri dan di depannya terdapat sebuah kolam ikan yang besar sehingga kapan saja saya dan Rudi bisa memancing di sana. sepertinya tanpa sengaja, saya telah mencuri satu mimpi sahabatku.

Walaupun tinggal hanya berdua dengan Rudi tapi rumah itu selalu ramai dengan kehadiran anak2 karyawan yang sering datang sekedar untuk nonton TV ataupun mengerjakan PR sekolahnya bersama-sama di Rumah tersebut. kadang ketika senggang saya ikut membantu mereka mengerjakan PR, terutama untuk soal-soal Matematika. Mereka pun senang dengan cara saya menerangkan dan mengajarkan bagaimana memecahkan soal soal yang mereka anggap sulit itu dengan lebih mudah.

Setelah satu tahun bekerja, saya merasa tidak puas hanya menjadi seorang “tenaga terampil” lulusan D3. saya ingin meningkatkan value diri saya dengan meningkatkan pendidikan ke jenjang ke S1. Berbekal gaji sebagai seorang freelancer saya minta izin untuk bisa melanjutkan kuliah jejang S1 sambil tetap bekerja di kebun penelitian BPPT. Pilihan saya jatuh pada Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa (Faperta UNB), Bogor. Alasannya masih sama dengan sebelumnya, biayanya relatif lebih terjangkau dibandingkan Universitas lain. Selain itu, di Faperta UNB saat itu ada kelas khusus Karyawan yang waktu kuliahnya disesuaikan dengan hari libur kerja tetapi tidak mengurangi jam tatap muka yang dipersyaratkan untuk setiap SKS mata kuliah.

Mulai kuliah, saya jadi sering bolak-balik Sukabumi – Bogor – Depok. Kendaraannya ya angkutan umum. kadang naik kereta, kadang L-300, kadang Bus. Suatu ketika saat menuju ke kampus menggunakan bus, secara tidak sengaja bertemu dengan Sahabatku Shantianny yang juga sedang ada urusan di Kota Bogor. sebagai sahabat yang lama tidak bertemu, kami saling berbagi cerita. Rupanya Shantianny baru saja ikut tes sebagai syarat mendaftar sebagai pengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar. Tesnya menurut saya agak antimainstream: Shanty yang mendaftar sebagai guru matematika, tesnya diminta menuliskan surat Al-Fatiha lengkap, 7 ayat. Selain soal tes banyak cerita lain yang dibagikan Shanty kepada saya seperti misalnya tentang dia yang rutin ke Kota Bogor untuk memasarkan Strawberry yang berasal dari Ciwidey, tempat tinggalnya.

Waktu berlalu, kuliah dan pekerjaan lancar. Memasuki semester 7 perkuliahan sudah tidak padat lagi, hanya tinggal penyelesaian proposal dan dilanjutkan dengan penelitian. Karena kesibukan mulai berkurang, hari-hari libur kerja kembali membantu anak-anak karyawan menyelesaikan PR nya di rumah dinas BPPT. Di satu sore yang tenang di saat sedang asyik memancing di depan rumah, saya kedatangan 2 orang tamu. Mereka adalah seorang guru dan wakil kepala sekolah SMP PGRI Sukabumi, tempat dimana anak-anak karyawan yang sering saya bantu bersekolah. Rupanya anak-anak yang sering saya bantu belajar itu bercerita kepada guru mereka bahwa mereka diajarkan oleh saya sehingga nilai matematika mereka meningkat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selama ini pelajaran matematika di ampu oleh kepala sekolah, namun karena kesibukan yang meningkat, kepala sekolah tidak bisa lagi merangkap sebagai pengampu mata pelajaran matematika. Nah, kedatangan dua orang tamu tersebut meminta saya membantu mengajar matematika di sekolah mereka. Saya pikir tidak ada salahnya, toh hanya meluangkan sedikit waktu. Terlebih lagi lokasi sekolah mereka hanya berjarak 500 meter dari rumah.

Akhirnya, dimulai lah hari-hari saya selain sebagai seorang freelancer BPPT, mahasiswa Faperta UNB, ditambah satu lagi sebagai guru sukarelawan bidang studi Matematika di SMP PGRI Sukabumi. Keliatan sibuk ya…. ga juga. sepanjang kita bisa membagi waktu dengan baik, semua bisa dijalani dengan baik juga. Saya tidak tau, apakah setelah tes menulis alfatiha, Shantianny diterima sebagai guru matematika atau tidak, tapi yang jelas saat itu saya yang jadi guru Matematika. Lagi-lagi Mencuri Mimpi.

Bersambung……. Part berikutnya nanti masih seputar mimpi. kalo di part ini berjudul mencuri mimpi karena hanya dijalani beberapa saat saja, part berikutnya akan berjudul menjalani mimpi, kenapa karena sampai saat ini masih di jalani. penasaran…??? nantikan Part berikutnya dari My Ottobiografy.

Tinggalkan komentar