MY OTTO BIOGRAPHY part II


JANGAN BERCERMIN DI AIR YANG KOTOR…..

Jika dimaknai secara apa adanya; tentulah kita dapat segera tahu bahwa dengan bercermin di air yang kotor maka tentu saja refleksi wajah kita di air tersebut akan terlihat kotor juga. Walaupun sebenarnya mungkin wajah kta bersih. Jika kita bercermin di air/cermin yang bersih maka wajah kita akan terlihat apa adanya; bersih wajah kita akan terlihat bersih, kotor wajah kita  akan terlihat kotor. Seringkali pada masa-masa usia SLTA, kita melakukan kegiatan yang sekedar ikut-ikut. “Dia aja bolos ga apa-apa… aku juga sekali kali bolos juga ahh…” “Dia juga ga ngerjain tugas dari guru,  kenapa aku repot-repot ngerjain tugas itu…?” “Dia aja nyontek.., aku boleh juga dong nyontek…” Melihat perilaku jelek orang lain kemudian kita merefleksikan kita dengan perilaku jelek itu (ikut2an) maka kelakuan kita jadi jelek juga.. inilah makna yang kutangkap dari pesan pak Andi Kurniawan; “JANGAN BERCERMIN DI AIR YANG KOTOR” artinya jangan ikuti jika kita melihat orang lain berlaku buruk. Walaupun orang lain mencontek, bukan berarti kita juga harus mencontek.. walaupun teman kita membolos.. apa ruginya jika kita tetap masuk kelas… tentu kita lebih beruntung mengerjakan tugas dari guru dibandingkan teman yang tidak mengerjakan.

Kembali ke laptop. Tahun ke dua dan ke tiga di SPP DKI Jakarta sudah tidak terasa seberat di tahun pertama. Mungkin karena sudah terbiasa dengan iklim sekolah yang seperti itu. Ala bisa karena biasa. Motivasi sekolah pertanian yang awalnya karena biaya yang ringan mulai berubah arah dengan sendirinya. Lama-kelamaan aku mulai tertarik dengan ilmu pertanian; semuanya. Mulai dari budidaya, alsintan, ekonomi pertanian, klimatologi, tanah dan pemupukan, perlindungan tanaman, semuanya. Mungkin ini juga yang menghilangkan rasa berat sekolah di SPP DKI Jakarta.

Sekali lagi, -tanpa bermaksud menyombongkan diri- akhirnya aku berhasil menyelesaikan pendidikan sebagai lulusan terbaik. Dengan hasil ini, aku berkesempatan mengikuti wisuda khusus para lulusan terbaik SPP 4 Propinsi di SPP Negeri Tegal. Empat propinsi itu adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY. Sesudah wisuda, saat pengambilan ijazah, aku dipanggil kepala sekolah ibu Sofnelly B. Muharram, B.Sc, kemudian ditanya: “Sarmili, lulus dari sini (SPP) kamu mau kemana? Kuliah atau kerja?” aku menjawab “saya mau cari kerja bu” “kenapa tidak kuliah?”

“tidak ada biaya, Bu.. saya mau kerja dulu nanti mudah-mudahan bisa kuliah sambil kerja.”

“kalo saya tawari kuliah beasiswa, mau tidak?”

“beneran bu????” pertanyaan itu kuajukan karena setengah percaya dan tidak. Benarkah aku bias kuliah?? Senang, kaget, seraya tak percaya jadi satu.

“iya, benar. Ini formulirnya, kamu isi. Syarat-syaratnya kamu penuhi”

“baik, bu. Tapi saya izin orang tua saya dulu bu”…

Setelah melewati serangkaian proses dan ujian masuk, atas restu kedua orang tua dan izin Allah SWT, aku diterima sebagai mahasiswa di Akademi Penyuluhan Pertanian (APP) Bogor –sekarang Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor. Ini merupakan perguruan tinggi kedinasan yang dikelola oleh Departemen Pertanian yang sebenarnya diperuntukkan bagi Pegawai negeri sipil pusat/daerah yang bertugas sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Beruntung, pada tahun dimana aku lulus SPP, Departemen Pertanian menyediakan kursi untuk perwakilan siswa lulusan SPP non PNS. Dari 3 jurusan yang ada di APP Bogor, aku memilih jurusan penyuluhan pertanian. Di jurusan ini, jatah untuk siswa lulusan SPP non PNS hanya 2 orang. Dan siswa yang beruntung itu adalah aku dan seorang lagi lulusan SPP Negeri Tanjungsari, Shantianny.

Tinggal di asrama, kuliah bersama mayoritas para PNS yang kebanyakan seusia Bapakku, tanpa sengaja telah membentuk aku menjadi seorang yang lebih dewasa, lebih dapat memaknai hidup dan perjuangannya, lebih menghargai nilai-nilai perjuangan kedua orang tuaku ketika membesarkanku. Di asrama aku sering menangis ketika teringat aku sering membantah ibuku. Sering menolak ketika dimintai tolong oleh ibuku. Aku menangis manakala teringat Bapak yang harus rela berkeliling menapaki jalan aspal Jakarta di tengah terik matahari untuk menjajakkan dagangannya demi aku dan adik2ku. Di asrama itulah rasa bangga kepada orang tuaku tumbuh dan terpupuk. Betapa tidak,ketika sebagian orang tua lain di kampungku lebih memilih menyelamatkan tanahnya dibanding membiayai sekolah anaknya, Bapak malah menjual tanahnya untuk membiayai sekolahku. Karena penghasilan dari berdagang keliling hanya cukup untuk makan seadanya. Kembali terbayang di pelupuk mata, bagaimana jerih payah usaha Bapak mencari uang agar dapat membelikan aku mesin tik untuk menyelesaikan tugas akhir sekolah. Masa itu semua siswa di sekolahku mengerjakan tugas akhir dengan mesin tik. Komputer belum begitu popular, hanya untuk kalangan terbatas.

Di APP Bogor ini, untuk pertama kalinya aku mengenal komputer. Sudah lama sekali aku ingin bisa mengoperasikan computer. Apalah daya, di tiga sekolah sebelumnya tidak ada mata pelajaran computer. Kursus??? Jauh panggang dari api. Karena itu, aku memanfaatkan betul 1 sks mata kuliah computer di semester 3 untuk mempelajari sebanyak-banyaknya tentang computer. Tidak puas hanya belajar 50 menit seminggu, aku manfaatkan waktu istirahat untuk praktek ilmu computer tambahan di lab computer kampusku. Pendalamannya aku lakukan di rental ketika mengerjakan tugas-tugas mandiri kelompok yang dibiayai dari iuran teman-teman kelompokku. Teman-teman kelompokku yang terdiri atas mahasiswa PNS mengumpulkan uang untuk biaya rental computer, sementara aku yang paling muda dan tidak punya uang disuruh mengetik atas biaya mereka. Kesempatan ini aku manfaatkan untuk mendalami ilmu komputerku yang Cuma 1 sks plus. Kadang aku membantu mengetik tugas individu teman2 mahasiswa PNS tanpa imbalan. Aku hanya ingin mendalami ilmu computer di rental sambil membantu mereka.

BERSAMBUNG……

One comment on “MY OTTO BIOGRAPHY part II

  1. Ping-balik: MY OTTOBIOGRAFY PART III | BLOG SARMILI ABI SAREVA

Tinggalkan komentar