HASIL SURVEY FOOD STANDARDS AGENCY (FSA); MIKOTOKSIN PADA SEREAL DI INGGRIS MASIH DIBAWAH AMBANG BATAS


Mikotoksin terbentuk dari proses kimiawi oleh jenis jamur tertentu yang diketahui dapat menyebabkan masalah kesehatan. Mikotoksin terdapat pada berbagai jenis makanan, termasuk sereal, kacang-kacangan, rempah-rempah, buah-buahan, kopi, susu dan minuman beralkohol serta pada setiap tahap dari rantai makanan.Lembaga pengawas makanan di Inggris menyatakan bahwa sebanyak 97 persen dari 220 sampel yang dianalisis mengandung tingkat mikotoksin dibawah batas keamanan yang ditetapkan oleh Uni Eropa.

Menurut FSA, hanya tujuh sampel atau sekitar 3 persen yang ditemukan mengandung mikotoksin diatas ketentuan resmi Uni Eropa dan dalam banyak kasus kandungan ini hanya sedikit diatas batas yang ditentukan.

Program 4 tahunan

Mikotoksin yang tercakup dalam survei terdiri dari aflatoksin, ochratoxin A (OTA), fumonisins, zearalenone (ZON) and the trichothecenes termasuk deoxynivalenol (DON) dan T2 serta HT2 toksin.

Lembaga keamanan pangan tersebut menyatakan hasil temuan ini menunjukkan bahwa tingkat mikotoksin dalam sereal dan makanan yang berasal dari sereal di Inggris tidak menimbulkan risiko yang cukup signifikan terhadap kesehatan.

Terhadap temuan atas produk yang melebihi batas, FSA akan melakukan investigasi dan memastikan bahwa produk tersebut ditarik dari pasar. Komisi Eropa dan negara-negara anggota lainnya juga diinformasikan sehingga mereka bisa mengambil tindakan yang diperlukan.

Penelitian yang dilakukan oleh agency’s Chemical Safety Division merupakan hasil awal dari program survey yang berlangsung selama empat tahun untuk mengukur jumlah mikotoksin yang terdapat dalam berbagai makanan.

Dari hasil penelitian dinyatakan bahwa dengan tingkat ilmu pengetahuan dan praktek pertanian yang berlansung saat ini, belum memungkinkan menghasilkan sereal yang bebas dari mikotoksin.

Survei ini memberikan gambaran yang akurat terhadap tingkat mikotoksin dalam sereal di Inggris serta membantu FSA memberikan perlindungan yang tepat terhadap konsumen serta meminimalkan risiko dari kontaminan yang mungkin ada.

 

Tinggalkan komentar